Jumat, 13 Januari 2017

The Destiny: Chapter 1 "Duniaku" (part 2)

Selamat siang semuanya. Kembali lagi bersama penulis dalam cerita The Destiny, maafkan penulis karena tidak bisa post cerita secepat mungkin sebab banyak hal yang sedang penulis rencanakan. :D
Cerita kali ini akan melanjutkan part 1 sebelumnya, jadi untuk kalian yang belum membacanya bisa membacanya terlebih dahulu disini.

Langsung saja.. Selamat membaca!!!


CHAPTER 1: DUNIAKU (Part 2)


      Deru angin dan matahari senja menemani kami diatas dinding perbatasan dengan keheningan, beberapa detik kemudian kakek Billy baru berbicara, "Di Dunia ini, dimana Blok ini berisi orang-orang kejam dan jahat, pasti juga ada orang baiknya. Mereka membantu orang-orang yang kesulitan disini dan menolong sesama, walau mereka juga termasuk orang susah." Jawab kakek Billy sambil melihat orang-orang yang sedang bercanda ria dibawah. "Dan siapa mereka, kek?" Tanyaku kembali. "Mereka itu....."
     Belum sempat menyelesaikan ucapannya, sekumpulan orang berteriak dan melompat dengan wajah ceria melewati perumahan warga. Hal itu sontak membuatku dan kakek Billy menoleh kearah mereka, kulihat betapa gesitnya mereka berlari dan melompati perumahan warga. Mereka berhenti di atap rumah tingkat dua dan berbincang-bincang sambil menghela nafas, perbincangan mereka cukup terdengar jelas olehku karena jarak antara tempatku berdiri dan mereka tidak terlalu jauh. “Saatnya kembali kesana guys. Ada yang ingin menyerah?” Tanya salah satu dari mereka yang sepertinya adalah ketua, namun kelima temannya hanya tersenyum palsu yang menandakan mereka belum menyerah.

     “Mereka itu siapa kek? Kenapa mereka melakukan itu? Apa mereka maling? Atau mereka memang hobi parkour?” Segelintir pertanyaan kusampaikan pada kakek Billy. “Ya, merekalah orang yang sedang kita bicarakan saat ini, mereka adalah Xtreme Boy atau orang-orang sini biasa memanggilnya dengan sebutan XB.” Jawab kakek Billy melanjutkan jawaban sebelumnya yang sempat terpotong. Ternyata mereka adalah orang dibalik senyuman penduduk yang berada jauh dari jangkauan istana, kulihat mereka berbagi makanan dan barang-barang yang mereka bawa kepada semua orang disini.

     Lima orang dari mereka telah pergi menuju suatu tempat. Dari arahnya, kurasa mereka akan pergi ke Studio Tower. Namun orang yang tadi kuanggap ketua belum beranjak dari posisinya, "keindahan apalagi yang akan kita lihat hari ini?! Guys, lari dan melompatlah selalu! Jangan lambat, aku akan mengejar kalian" Ujarnya yang masih dapat kudengar. Akhirnya dia mengejar teman-temannya yang sudah jauh didepan.

     Teman-temannya sudah sampai dibawah Studio Tower. "Lakukan lagi?". "Maunya. Tapi kapten belum tiba." Ucap Zein sambil mencari sang kapten. Tiba-tiba ada seseorang yang berteriak kepada mereka, suara itu berasal dari dari atas gedung kecil yang bersebelahan dengan studio. "Kenapa kalian berhenti? Pemandangan indah ada diatas sana!" Teriakan sang kapten yang sedang berlari menuju studio. Dia berniat melompati gedung tersebut, padahal jarak lompatannya terpaut cukup jauh. Lompatan tinggi itu sontak membuat timnya terpana, sampai mendekati sisi dari studio, kapten mengeluarkan kail dari saku celananya. Kail itu dilemparkan dan mengenai tepat disisi studio dan mendarat dengan aman di lantai lima, timnya mulai mengejarnya karena tidak mau kalah, "Kami akan mengejarmu, kapten!" Kesal Nia. Mereka langsung mengejarnya dan berhasil sejajar dengan kapten, namun dia lupa untuk menggulung kailnya kembali, alhasil dia tertinggal jauh oleh timnya. Mereka berlima telah sampai di puncak lantai tiga belas, beberapa saat kemudian sang kapten baru tiba dengan nafas terengah-engah, "Kau lambat, Riz!" Ejek si tomboy. Sang kapten hanya bisa tertawa kecil mendengar ejekan tersebut. "Sekarang kita sudah melihat keindahan itu, iya kan?" Tanya Reza pada siapapun yang mendengarnya. "Ya, keindahan matahari senja di Blok ini membawa ketenangan untuk jiwa kita yang telah melakukan banyak hal setiap harinya." Senyum sang kapten pada semuanya sambil menghela nafas. Senyuman yang lain pun terekah akan pemandangan tersebut, dan tersenyum untuk mengakhiri hari ini karena mereka telah berbagi suka cita kepada orang-orang. 

~~~~~

Chapter 1 selesai... Terima kasih atas dukungan kalian semua karena telah membaca cerita yang penulis buat ini. Semoga di chapter-chapter berikutnya semua akan terjelaskan jika ada yang belum mengerti, itu saja yang bisa penulis sampaikan, akhir kata terima kasih dan see you on next chapter!!! :)

Senin, 02 Januari 2017

The Destiny: Chapter 1 "Duniaku"

Selamat sore semuanya. Kembali lagi di cerita The Destiny, pada Chapter 1 ini kita akan mengenal banyak karakter, so jangan sampai lupa siapa nama-nama mereka ya hehe. semoga kalian senang pada pembukaan prolog yang penulis buat sebelumnya. Untuk yang belum membaca prolognya, silahkan klik link dibawah ini
THE DESTINY (Prolog)

Tanpa panjang lebar, selamat membaca!!!
 
CHAPTER 1: DUNIAKU (Part 1)

*Fariz Point of View

     Hidup di dalam Blok itu terkadang menyenangkan, terkadang juga tidak. Namun kenyataan kalau aku menikmatinya tak bisa lagi ku tutupi, aku dan teman-temanku adalah seorang Parkour dari Blok X. kebiasaan kami ialah membantu orang-orang yang kesusahan untuk bertahan hidup. Tak peduli cara apa yang kami lakukan, tak peduli pula orang-orang berkata apa.

     “Hey Fariz!” Seseorang memanggilku dengan suara tomboynya yang tak lain adalah Okta. “Kau masih saja, merenung setiap kali kita ingin beraksi?! Ayolah kita berangkat!”. “Kau temui saja yang lainnya, kita ketemu ditempat biasa.” Ujarku tanpa menghiraukannya. “Baiklah, jangan telat ya!” Perintahnya.
     Okta langsung bergegas pergi meninggalkanku, sejenak aku berpikir jika memimpin sebuah tim itu tidak mudah, bahkan aku selalu menolak jika diajukan sebagai pemimpin tim. Namun kenyataan berkata lain, aku harus menjadi ketua tim parkour ini karena aku adalah yang termuda di tim (mereka bilang pemimpin muda adalah pemimpin yang bertanggung jawab besar).

     Aku langsung bergegas pergi dari atap gedung kumuh itu menuju ke atap gedung besar dengan tulisan “Studio Tower” tertempel disana. Itu adalah tempat dimana kita sering berkumpul. Setelah sampai di atap, kelima temanku sudah berkumpul dengan wajah kesal karena aku datang terlambat.
     “Dasar, kau ini selalu saja telat! Kau itu kapten tim Riz.” Seorang wanita perawakan lugu nan manis itu berbicara, dia adalah Nia. Aku berbicara dengan nafas terengah-engah, “Maaf kawan-kawan, hfft aku terlambat lagi.”
     “Dasar! Kau itu kapten tim, bisakah kau sedikit berubah?!” Ejek temanku yang sedang berdiri menatap luasnya blok X, dia adalah Zein. “Hey kau pun sama Zein, ubahlah sikap sok kerenmu itu!”. “Benar sekali apa yang Reza katakan!” Dua orang lagi yaitu Reza dan Erick membual ke Zein. “Hey sudahlah jangan diteruskan. Kita kesini untuk bertugas! Siapkan peralatan kalian sekarang!” Perintahku pada yang lainnya. Mereka memeriksa peralatannya dan siap untuk bertugas membantu orang-orang yang kesulitan.

     Seperti biasa, aku selalu mengucapkan kata-kata sebelum kami memulai hari ini untuk memberi semangat dalam diri masing-masing. “Pemerintah akan selalu seperti ini jika kita tidak bertindak! Orang-orang tak berdaya hanya bisa pasrah tanpa melakukan apapun. Untuk itu kita disini, pagi ini! Kita bantu mereka bertahan hidup dalam Blok yang membuat semuanya sengsara! Mereka membutuhkan bantuan kita kawan, jadi ayo kita lakukan ini sekali lagi!” sebuah kata-kata yang membuat mereka semua bahkan aku merenung, memikirkan betapa tidak adilnya Dunia ini terhadap Bloknya, sementara Blok lain hidup dalam kesejahteraan.

     “Kita akan berjuang! XB never give up!” serentak saat kami menyatukan tangan dan berkata seperti itu, akhirnya kami memulai kembali hari ini dengan parkour, melompat dari satu gedung ke gedung lain, mengambil apapun yang bisa kami ambil di kawasan pemerintahan. Semua yang kami lakukan hanya untuk menegakkan keadilan.

*Prof. Daisy Point of View

     Aku segera mencari orang-orang yang bisa kuajak bergabung dalam proyek ini, namun banyak yang menolaknya karena mereka berpikir itu adalah hal yang sia-sia. Kulihat betapa megahnya istana Pemerintah yang dilindungi oleh Selvortnes dari dinding perbatasan.
     “Sangat jauh dengan keadaan masyarakatnya, sepertinya mereka hidup dalam kedamaian.” Ujarku sambil terperanga. “Jika kau bisa melihatnya, berarti kau mengerti.” Tegas seseorang kepadaku, aku menoleh kesamping dan mendapati dia sedang menatap istana itu juga. “Apa yang kau maksud?” Tanyaku penasaran. “Mereka itu ibaratkan Sutradara Film, membuat skenario sesukanya dan membiarkan pemerannya memainkan apa yang Sutradara inginkan.” Jelas orang itu. Akupun menatapnya dengan wajah kebingungan karena pernyataannya tersebut. “Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan, tapi kurasa aku tau maksudnya itu.” Orang itu tersenyum dan memperkenalkan diri, dia adalah Billy Harris. “Tunggu, bukannya kau salah satu anggota pemerintahan ya?” Tanyaku terheran. “Ya, seperti yang kau lihat, umurku sudah tua dan Ken menyuruhku untuk lepas jabatan.” Jawabnya singkat.

     Aku melihat kakek Billy sangat sehat. Padahal seharusnya jika dia tinggal di Blok ini, dia tidak bisa bertahan hidup lama. Mengingat bahwa orang-orang yang berada jauh dari jangkauan istana Pemerintah tidak akan pernah mendapatkan kesejahteraan hidup, namun anehnya sang kakek bisa sesehat ini. “Apa rahasiamu sampai kau bisa sesehat ini, kek?” Sang kakek hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku. Deru angin dan matahari senja menemani kami diatas dinding perbatasan dengan keheningan, beberapa detik kemudian kakek Billy baru berbicara, “Di Dunia ini, dimana Blok ini berisi orang-orang kejam dan jahat, pasti juga ada orang baiknya. Mereka membantu orang-orang yang kesulitan disini dan menolong sesama, walau mereka juga termasuk orang susah.” Jawab kakek Billy sambil melihat orang-orang yang sedang bercanda ria dibawah. “Dan siapa mereka, kek?” tanyaku kembali. “Mereka itu…..”

(to be continued)

Gimana ceritanya? Penulis sengaja membuat setiap chapter ber-part, supaya kalian gak bosen bacanya hehehe.. Stay terus untuk kelanjutan ceritanya :) Terima kasih... :)