Senin, 02 Januari 2017

The Destiny: Chapter 1 "Duniaku"

Selamat sore semuanya. Kembali lagi di cerita The Destiny, pada Chapter 1 ini kita akan mengenal banyak karakter, so jangan sampai lupa siapa nama-nama mereka ya hehe. semoga kalian senang pada pembukaan prolog yang penulis buat sebelumnya. Untuk yang belum membaca prolognya, silahkan klik link dibawah ini
THE DESTINY (Prolog)

Tanpa panjang lebar, selamat membaca!!!
 
CHAPTER 1: DUNIAKU (Part 1)

*Fariz Point of View

     Hidup di dalam Blok itu terkadang menyenangkan, terkadang juga tidak. Namun kenyataan kalau aku menikmatinya tak bisa lagi ku tutupi, aku dan teman-temanku adalah seorang Parkour dari Blok X. kebiasaan kami ialah membantu orang-orang yang kesusahan untuk bertahan hidup. Tak peduli cara apa yang kami lakukan, tak peduli pula orang-orang berkata apa.

     “Hey Fariz!” Seseorang memanggilku dengan suara tomboynya yang tak lain adalah Okta. “Kau masih saja, merenung setiap kali kita ingin beraksi?! Ayolah kita berangkat!”. “Kau temui saja yang lainnya, kita ketemu ditempat biasa.” Ujarku tanpa menghiraukannya. “Baiklah, jangan telat ya!” Perintahnya.
     Okta langsung bergegas pergi meninggalkanku, sejenak aku berpikir jika memimpin sebuah tim itu tidak mudah, bahkan aku selalu menolak jika diajukan sebagai pemimpin tim. Namun kenyataan berkata lain, aku harus menjadi ketua tim parkour ini karena aku adalah yang termuda di tim (mereka bilang pemimpin muda adalah pemimpin yang bertanggung jawab besar).

     Aku langsung bergegas pergi dari atap gedung kumuh itu menuju ke atap gedung besar dengan tulisan “Studio Tower” tertempel disana. Itu adalah tempat dimana kita sering berkumpul. Setelah sampai di atap, kelima temanku sudah berkumpul dengan wajah kesal karena aku datang terlambat.
     “Dasar, kau ini selalu saja telat! Kau itu kapten tim Riz.” Seorang wanita perawakan lugu nan manis itu berbicara, dia adalah Nia. Aku berbicara dengan nafas terengah-engah, “Maaf kawan-kawan, hfft aku terlambat lagi.”
     “Dasar! Kau itu kapten tim, bisakah kau sedikit berubah?!” Ejek temanku yang sedang berdiri menatap luasnya blok X, dia adalah Zein. “Hey kau pun sama Zein, ubahlah sikap sok kerenmu itu!”. “Benar sekali apa yang Reza katakan!” Dua orang lagi yaitu Reza dan Erick membual ke Zein. “Hey sudahlah jangan diteruskan. Kita kesini untuk bertugas! Siapkan peralatan kalian sekarang!” Perintahku pada yang lainnya. Mereka memeriksa peralatannya dan siap untuk bertugas membantu orang-orang yang kesulitan.

     Seperti biasa, aku selalu mengucapkan kata-kata sebelum kami memulai hari ini untuk memberi semangat dalam diri masing-masing. “Pemerintah akan selalu seperti ini jika kita tidak bertindak! Orang-orang tak berdaya hanya bisa pasrah tanpa melakukan apapun. Untuk itu kita disini, pagi ini! Kita bantu mereka bertahan hidup dalam Blok yang membuat semuanya sengsara! Mereka membutuhkan bantuan kita kawan, jadi ayo kita lakukan ini sekali lagi!” sebuah kata-kata yang membuat mereka semua bahkan aku merenung, memikirkan betapa tidak adilnya Dunia ini terhadap Bloknya, sementara Blok lain hidup dalam kesejahteraan.

     “Kita akan berjuang! XB never give up!” serentak saat kami menyatukan tangan dan berkata seperti itu, akhirnya kami memulai kembali hari ini dengan parkour, melompat dari satu gedung ke gedung lain, mengambil apapun yang bisa kami ambil di kawasan pemerintahan. Semua yang kami lakukan hanya untuk menegakkan keadilan.

*Prof. Daisy Point of View

     Aku segera mencari orang-orang yang bisa kuajak bergabung dalam proyek ini, namun banyak yang menolaknya karena mereka berpikir itu adalah hal yang sia-sia. Kulihat betapa megahnya istana Pemerintah yang dilindungi oleh Selvortnes dari dinding perbatasan.
     “Sangat jauh dengan keadaan masyarakatnya, sepertinya mereka hidup dalam kedamaian.” Ujarku sambil terperanga. “Jika kau bisa melihatnya, berarti kau mengerti.” Tegas seseorang kepadaku, aku menoleh kesamping dan mendapati dia sedang menatap istana itu juga. “Apa yang kau maksud?” Tanyaku penasaran. “Mereka itu ibaratkan Sutradara Film, membuat skenario sesukanya dan membiarkan pemerannya memainkan apa yang Sutradara inginkan.” Jelas orang itu. Akupun menatapnya dengan wajah kebingungan karena pernyataannya tersebut. “Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan, tapi kurasa aku tau maksudnya itu.” Orang itu tersenyum dan memperkenalkan diri, dia adalah Billy Harris. “Tunggu, bukannya kau salah satu anggota pemerintahan ya?” Tanyaku terheran. “Ya, seperti yang kau lihat, umurku sudah tua dan Ken menyuruhku untuk lepas jabatan.” Jawabnya singkat.

     Aku melihat kakek Billy sangat sehat. Padahal seharusnya jika dia tinggal di Blok ini, dia tidak bisa bertahan hidup lama. Mengingat bahwa orang-orang yang berada jauh dari jangkauan istana Pemerintah tidak akan pernah mendapatkan kesejahteraan hidup, namun anehnya sang kakek bisa sesehat ini. “Apa rahasiamu sampai kau bisa sesehat ini, kek?” Sang kakek hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku. Deru angin dan matahari senja menemani kami diatas dinding perbatasan dengan keheningan, beberapa detik kemudian kakek Billy baru berbicara, “Di Dunia ini, dimana Blok ini berisi orang-orang kejam dan jahat, pasti juga ada orang baiknya. Mereka membantu orang-orang yang kesulitan disini dan menolong sesama, walau mereka juga termasuk orang susah.” Jawab kakek Billy sambil melihat orang-orang yang sedang bercanda ria dibawah. “Dan siapa mereka, kek?” tanyaku kembali. “Mereka itu…..”

(to be continued)

Gimana ceritanya? Penulis sengaja membuat setiap chapter ber-part, supaya kalian gak bosen bacanya hehehe.. Stay terus untuk kelanjutan ceritanya :) Terima kasih... :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah membaca. Silahkan berikan kritik dan saran kalian pada kolom komentar agar penulis bisa memperbaiki kesalahan sebelumya. Jangan lupa untuk follow akun Google+ penulis untuk informasi cerita-cerita lainnya. :)